Rumah Biru
Ada satu rumah biru di kawasan menuju Gelumbang yang selalu menjadi perhatian Qo setiap kali dia perlu berangkat menuju Tanjung Enim untuk magang saat S1 dulu. Rumahnya berada di deretan, di antara petak rumah lainnya, tapi Rumah Biru memiliki tingkat dua--yang membuatnya menonjol--dengan gaya bangunan yang agak aneh. Dinding rumahnya seperti terpotong di tengah-tengah, membuatnya seperti persegi yang terbelah alih-alih sebuah petak. Dindingnya dicat biru dengan atap yang lebih biru lagi.
Qo selalu membayangkan lantai dua rumah itu berisikan dua bilik kamar milik anak-anak pemilik rumah. Tangga rumahnya tersusun dari kerangka kayu kuat yang dilapisi karpet masjid tipis berwarna abu-abu. Jendela bundar di lantai dua berada di tengah puncak tangga, bagai simbol pertemuan antara dua bilik. Jadi, ketika hujan turun, kedua anak dapat keluar dari kamar masing-masing dan bertemu di jendela sambil menatapi keadaan luar. Ketika terjadi pertengkaran orang tua mereka, keduanya dapat bersembunyi di balik undakan sambil menyaksikan dari atas. Lantai dua seperti wilayah aman khusus untuk keduanya bersembunyi.
Qo pun mulai membayangkan bahwa salah satu dari anak di rumah itu adalah dirinya versi 7 tahun, sementara anak satunya lagi adalah kakaknya versi 8 tahun. Mereka menghabiskan banyak waktu yang remang di rumah itu, menyusun kepribadian bersama, menyaksikan kartun di pagi mendung atau sore berhujan. Mereka akan menunggu Ayah pulang membawa keripik kentang dan es krim, atau nasi goreng Ibu di minggu pagi. Atau tumis ketan. Atau pempek gendum dan cuko.
Qo tidak memikirkan kehidupan yang lebih baik, dia mengkhayalkan kehidupan yang sama, hanya di rumah yang berbeda. Rumah dengan dua lantai. Kemudian, dia mulai membayangkan bahwa itu adalah rumah masa depannya. Dia akan menikahi seseorang yang juga dengan sengaja menikahinya. Mereka punya dua anak yang sama dan tinggal di masing-masik bilik di lantai dua. Qo akan membawakan mereka keripik kentang, tidak hanya untuk anak-anaknya saja, tapi juga untuk dirinya sendiri. Juga pasangannya. Dia akan belajar membuat cuko dan setiap saat membuat pempek gendum.
Anak-anaknya akan punya kartun sendiri dan memiliki pagi yang mendung. Mereka juga akan menyukai hujan dan langit, pohon dan alam. Dia akan memberikan ruang bagi keduanya untuk berkembang dan mengeksplor diri mereka sendiri. Membiarkan mereka mencoba bermimpi, menyemangatinya. Dia juga akan meminta semangat dari pasangannya, bekerjasama sebisa mungkin untuk keempat dari mereka.
Untuk masa depannya, dia ingin cerita yang mungkin sama, tapi dengan beberapa modifikasi yang berbeda. Itu pun jika memungkinkan.
Jika saja dia punya keluarga sendiri...
Komentar
Posting Komentar