Little Pa dan Kecilnya Mental Ayah Muda




📚: Little Pa

📌: Qomichi

📮: Cabaca.id

Jumlah Bab : 26


Sudah jatuh tertimpa tangga, setelah diusir oleh keluarganya karena rumor homoseks, Miku justru dihadapkan dengan bayi yang ditelantarkan di depan pintu rumah barunya. Hari sial itu membuat Miku menjalani lembar baru sebagai orang tua tunggal yang tak jelas kehidupannya.

Hebatnya, setelah lima tahun, anak itu mulai menanyai Miku perihal sang Mama. Teman-teman Miku menyarankan agar dia segera mencari ibu bagi anaknya. Namun, tingkah kemayu yang jauh dari kata macho membuat Miku kesulitan, belum lagi dia hanya ingin menunggu cinta pertamanya—Yolanda—kembali padanya.

Ketika Yolanda tiba-tiba kembali, perempuan itu justru mengaku jika dialah ibu kandung dari anak yang Miku rawat selama ini.

Senang? Mungkin, karena Miku punya kesempatan untuk melengkapi keluarga kecilnya dengan Yolanda. Akan tetapi, bagaimana jika Yolanda kembali hanya untuk menyakitinya lagi?  

*

Jadi, Little Pa ini aku tulis untuk ikut kontes Adulting Tales di Cabaca. Nggak menang sihh, cuma top 5 voting pembaca, but fortunately diakuisisi oleh editor. So, seperti yang tertera di blurb, cerita ini tentang Miku yang jadi orang tua dadakan bagi Mark. Umur Miku waktu itu 21 tahun, not too old for being a father but not too young either. 

Problem cerita yang kehighlight mungkin seputaran roamnsa Miku dengan cewek dari masa lalunya, Yolanda. But, the point is cerita ini mau nampilin sosok Miku yang imature untuk jadi seorang ayah. Sepanjang cerita mungkin bakal dapet beberapa kali scene yang ngebuat pembaca geram sama Miku. He treated Mark kayak... a thing. Dia nggak merhatiin tumbuh kembang Mark, not too care sama apa yang disukai oleh Mark, bahkan at some point justru Mark yang coba ngertiin Miku. Can u imagine that?! Miku ngadopsi Mark cuma untuk ngobatin rasa sakit bahwa kenyataannya dia harus ngadepin kehidupan sendirian, so he needs somone else to deal with:"

Sampai akhirnya main conflict dari cerita ini yang bikin Miku coba berbenah diri. Tapi berhasil gak tuh, soalnya Mark kan.... (baca sendiri).

Well here's personal point; aku nulis nih cerita di usia 20(maybe🤔) dan aku kerap ngebayangin nemu bayi depan pintu—as what Miku gets—dan menjadi ayah dadakan. Di usia 20! Dulu waktu ngebaynginya, it's kinda cute, punya bayi dan jadi orang yang didewasakan untuk bertanggung jawab. Namun dari cerita ini aku mulai bertanya-tanya, am I ready yet? Karena menjadi orang tua memang butuh kesiapan dan mungkin pula butuh waktu yang banyak untuk belajar lebih baik, lebih dewasa, dan untuk menghadapi tanggung jawab baru.

Little di sini tuh nggak nunjukin usia kronologisnya Miku—20 tahun, sah-sah aja jadi ayah, yang aneh tuh kalo masih SMA, bahkan SMP—tapi usia mental Miku yang belum sepenuhnya matang. Miku bisa berperan sebagai seorang ayah? Tentu, boleh-boleh aja, tapi Miku benar-benar berperan sebagai seorang ayah? Patut dipertanyakan.

Jadi nih cerita lebih ke fungsi seorang ayah yang sebenarnya. Memang nggak ada ayah yang sempurna, tapi sudahkah dia bertindak setidaknya macam seorang ayah yang bertugas sebagai single parent? Di sini kita akan menemukan berbagai jawaban dan bagaimana seorang Miku tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa seiring perkembangan anaknya.

.

Tautan Cerita :

.

.

Qomichi, Juni 2024






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Harapan Mudah Pergi dan Hilang Layaknya Helium